Senin, 03 Oktober 2011

tentang delapanbelas

Kau datang dengan seikat besar senyummu yang mampu membuat rumput duniaku menghijau sempurna,

Semua yang kau tawarkan membahagiakanku, membuat dunia ini melipat bagian buruknya

Keluhanku berguguran dan bilangan senyumanku pun berlipat ganda

Seperti rumus setengah lingkaran

Walau pun aku tahu kita tak mungkin menyatu, tapi entah mengapa keegoisanku selalu mampu tertiup kesisi yang lain,

Aku mulai menyayangimu

Kau ada disini beberapa saat dan itu tak pernah cukup, aku selalu ingin melebihi dosis yang ada

Senyumanmu tak pernah menjemukan dan tak kan menyentuh tanggal kadaluarsa

Karena senyummu bukan keluaran pabrik dan tak menggunakan bahan pengawet

Senyummu tulus titisan embun pagi yang mencair karena kehangatan mentari

Itu baru setitik dari kamus dirimu yang menyenangkan

Aku mulai jatuh ke dalam cintamu

Dan memberimu bagian di dalam perasaanku

Kau mulai mengerti apa yang aku butuhkan mau pun tidak aku inginkan

Kau mulai mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja dan aku mempercayaimu

Kita mulai mengerti bahwa ini tidak akan mudah

Menjadikan ‘satu’ daging dan darah yang terpisah

Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya, merasakan bahwa diriku berharga dan diperhitungkan oleh seseorang

Karena sekarang ‘aku’ menjadi “kita”

Ternyata harapan kadang tak cukup kuat melawan kenyataan

Aku mulai sering berlari dan kau mulai sering menghilang

Aku mulai sering sendiri dan kau mulai sering berdiam diri

Kini tawamu mulai hilang dan senyummu pun memudar

Aku sering menahan tangisku dan kau pun sering melepas teriakanmu

Kita mulai berbeda

Kau bukan dirimu lagi dan aku mulai tak mengerti

Rumputku mulai kuning dan mengering, sebuah perjalanan panjang yang gersang

Jahitan perasaan kita mulai longgar dan menganga

Pilihannya, sobek saja atau rekatkan kembali?

Kau melemparkan lem, tapi yang kubutuhkan benang

Kau melemparkan peniti, tapi yang kubutuhkan jarum

Kau berpikir sempit layaknya pria

Dan aku berpikir rumit layaknya wanita

Kita mulai saling membenci

Dan kau bilang, inilah hidup dan cobalah mengerti

Dan aku bilang, benarkah aku tak melihatnya

Dan kau bilang, bukalah matamu

Dan aku bilang, aku hanya bisa melihatmu dengan hati dan kini itu tak kutemukan

Kau terdiam

Dan aku membisu

Semua indah, tapi tak selamanya begitu

Semua baik, tapi tak selamanya selalu

Kita sampai dipersimpangan

Pilihannya, beriringan sampai nanti atau berhenti sampai disini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar