Kau datang dengan seikat besar senyummu yang mampu membuat rumput duniaku menghijau sempurna,
Semua yang kau tawarkan membahagiakanku, membuat dunia ini melipat bagian buruknya
Keluhanku berguguran dan bilangan senyumanku pun berlipat ganda
Seperti rumus setengah lingkaran
Walau pun aku tahu kita tak mungkin menyatu, tapi entah mengapa keegoisanku selalu mampu tertiup kesisi yang lain,
Aku mulai menyayangimu
Kau ada disini beberapa saat dan itu tak pernah cukup, aku selalu ingin melebihi dosis yang ada
Senyumanmu tak pernah menjemukan dan tak kan menyentuh tanggal kadaluarsa
Karena senyummu bukan keluaran pabrik dan tak menggunakan bahan pengawet
Senyummu tulus titisan embun pagi yang mencair karena kehangatan mentari
Itu baru setitik dari kamus dirimu yang menyenangkan
Aku mulai jatuh ke dalam cintamu
Dan memberimu bagian di dalam perasaanku
Kau mulai mengerti apa yang aku butuhkan mau pun tidak aku inginkan
Kau mulai mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja dan aku mempercayaimu
Kita mulai mengerti bahwa ini tidak akan mudah
Menjadikan ‘satu’ daging dan darah yang terpisah
Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya, merasakan bahwa diriku berharga dan diperhitungkan oleh seseorang
Karena sekarang ‘aku’ menjadi “kita”
Ternyata harapan kadang tak cukup kuat melawan kenyataan
Aku mulai sering berlari dan kau mulai sering menghilang
Aku mulai sering sendiri dan kau mulai sering berdiam diri
Kini tawamu mulai hilang dan senyummu pun memudar
Aku sering menahan tangisku dan kau pun sering melepas teriakanmu
Kita mulai berbeda
Kau bukan dirimu lagi dan aku mulai tak mengerti
Rumputku mulai kuning dan mengering, sebuah perjalanan panjang yang gersang
Jahitan perasaan kita mulai longgar dan menganga
Pilihannya, sobek saja atau rekatkan kembali?
Kau melemparkan lem, tapi yang kubutuhkan benang
Kau melemparkan peniti, tapi yang kubutuhkan jarum
Kau berpikir sempit layaknya pria
Dan aku berpikir rumit layaknya wanita
Kita mulai saling membenci
Dan kau bilang, inilah hidup dan cobalah mengerti
Dan aku bilang, benarkah aku tak melihatnya
Dan kau bilang, bukalah matamu
Dan aku bilang, aku hanya bisa melihatmu dengan hati dan kini itu tak kutemukan
Kau terdiam
Dan aku membisu
Semua indah, tapi tak selamanya begitu
Semua baik, tapi tak selamanya selalu
Kita sampai dipersimpangan
Pilihannya, beriringan sampai nanti atau berhenti sampai disini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar