Pernahkah terbesit di pikiranmu bahwa cinta itu rumit?
Seperti barisan integral berpangkat yang tak mampu kau sederhanakan.
Seperti persamaan garis linear dimana tak pernah kau temukan satu titik agar X dan Y bisa bercumbu bebas.
Seperti rumusan asam basa dimana unsur kimia yang satu belum tentu bisa kau campurkan dengan unsur kimia lainnya.
Seperti simbol, ikon, dan indeks yang tak cukup kau artikan dengan bahasa verbal.
Aku tak sedang menyetarakan cinta dengan ilmu pengetahuan yang pernah dan sedang diteliti manusia. Namun begitulah kenyataannya.
Seperti cinta kita.
Butuh pertimbangan khusus dan spekulasi matang untuk mencintaimu. Bukan, bukan berarti aku mencari untung rugi. Aku tahu cinta bukan hanya mencari kesenangan diri.
Tapi kau perlu ingat, cinta itu tak timpang sebelah. Tak selamanya menerima itu indah, cobalah imbangi dengan memberi. Niscaya akan sempurna adanya.
Saat kuberikan hatiku seutuhnya untukmu, jagalah baik-baik. Jika terpikir olehmu untuk menyakitiku, tolong kau pikir lagi ribuan kali. Bila ada hasratmu untuk mencurangiku, kukatakan dari sekarang, simpan saja niatmu dan lupakanlah.
Adanya masa lalu membuatku begitu hati-hati mencintaimu.
Dari situlah aku belajar mencintaimu tak hanya dengan rasa, tapi juga logika. Aku tak ingin terlena hingga lupa melihat realita. Maaf, maafkan jika aku berlaku begini. Jangan menganggap cintaku setengah-setengah, aku tak sembarangan mencintaimu. Percayalah!
Tapi akupun ingin belajar padamu. Belajar mencintaimu dengan caramu mencintaiku. Saat kau rasa cintaku terlalu sengit, ingatkan aku akan cintamu yang sederhana. Sesederhana hitungan aritmatika anak-anak TK. Dimana satu ditambah satu tak selalu jadi dua. Sederhana. Seharusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar